TELEPOTATO

TELEPOTATO

Suatu kisah di kota yang padat, aku, si perempuan berseragam tergopoh-gopoh berjalan di peron stasiun yang mempunyai enam jalur kereta yang cukup sibuk. Satu menit sekali terdengar suara dari petugas pria yang cukup lantang mengumumkan keberadaan kereta commuter line dari berbagai jurusan.

‘Harap diperhatikan jalur tiga, jalur tiga akan masuk commuter line tujuan akhir stasiun Kota. Commuter Line akan berhenti di tiap-tiap stasiun kecuali stasiun Gambir dan stasiun Senin melintas langsung’

Tidak lama setelah pemberitahuan itu terdengar, commuter line dengan sepuluh gerbong kereta pun segera masuk dan berhenti dengan sempurna. Ya, sempurna, kurang lebih seperti itu lah yang angin kabarkan kepadaku.

“Ceileh, angin pake dibawa-bawa..kebanyakan ngedit sih lo ye, jadi otak lo ikut ke-edit, jadi sedeng. Yaaah kereta jurusan Kota udah lewat yak, gue baru turun kopaja nih, yaudah deh, makasih yak” kata Kanina diiringi suara bising bemo yang sudah tidak asing lagi. Biasanya memang aku selalu pulang bersama dengan Kanina dan berpisah di stasiun Manggarai, tapi tadi pulsa ku habis dan aku tidak dapat menemuinya di bangku ia biasa duduk.

Sehabis menutup telepon dari Kanina, tidak lagi ada yang terlintas di pikiranku selain berdoa agar kereta tujuan Depok yang segera datang tidak lama lagi ini sepi penumpang biar aku bisa menaruh bokong ku ini dengan nyaman setelah mendapat shift satu editing dari pukul dua dini hari sampai  pukul sepuluh pagi tadi. Sudah menjadi rutinitas yang menjemukan. Perjalanan yang juga menjemukan. Kalau tidak karena masih butuh uang dan masih ingin dianggap normal, aku pasti lebih milih berguru di bawah laut bareng Jinny oh Jinny. Kalau udah jago teleportasi, nanti aku bisa ke Inggris gratis dengan hanya sekali kedip.

Sampai commuter line jurusan Depok datang, khayalku masih mengawang-awang. Walau badan masih di Jakarta, khayal ku sudah jauh lebih dulu tiba di Inggris, persis saat gigitan Mister Potato Waavy yang pertama. Sampai beberapa saat kemudian….

“London Bridge Station.” Aku setengah sadar saat mendengar suara dari alat pengeras di gerbong kereta itu, sampai seorang konduktor membangunkan ku. Dengan wajah ketakutan aku berdiri. Konduktor itu meraih bahuku, meremasnya sedikit kencang.

“Aku tahu pergi ke London Bridge dan bernyanyi dan menari-nari di atas jembatannya adalah keinginanmu sejak dulu kan? Jawab!” gertaknya kencang. Dari name tag di bajunya, ku tahu ia bernama Davin Heath.

“I…iya, sir!” jawabku pelan

“Coba kalau kamu memang benar-benar ingin bernyanyi dan menari di atas jembatan London Bridge, lagu apa yang kamu mau nyanyikan?” tanyanya lagi dengan nada sopran yang khas. Aku diam. Bukan tidak tahu harus menyanyi apa, melainkan bingung dengan apa yang terjadi. “Cepat! Katanya kamu ingin sekali bernyanyi dan menari di London Bridge!”

“Ba..baik, sir…” kataku terbata dan mulai menyanyikan lagu London Bridge is Falling Down..

London Bridge is falling down
Falling down, falling down
London Bridge is falling down
My fair lady

Build it up with iron bars
Iron bars, iron bars
Build it up with iron bars
My fair lady

Iron bars will bend and break
Bend and break, bend and break
Iron bars will bend and break
My fair lady

Build it up with gold and silver
Gold and silver, gold and silver
Build it up with gold and silver
My fair lady

London Bridge is falling down
Falling down, falling down
London Bridge is falling down
My fair lady

Selama bernyanyi, aku juga melakukan gerakan on point. Di tarian ballet gerakan ini merupakan gerakan berdiri dengan ujung kaki dan melompat kecil. Aaah, gerakan yang selalu aku idam-idamkan untuk dapat menguasainya. Ditambah dengan sedikit gerakan voete, gerakan memutar 180 derajat dengan masih berdiri dengan ujung kaki dan diakhiri dengan gerakan merendahkan badan sedikit sehingga kakiku yang tadinya tegak lurus kini agak membuka lebar. Aku juga menundukkan kepala ku tanda habis sudah lagu dan tarian yang baru saja aku bawakan. Seperti mimpi rasanya bisa menarikan tari ballet yang tidak pernah aku pelajari seumur hidup. Sebelumnya aku hanya gemar menikmati penampilan ballet di televisi atau di pertunjukan-pertunjukan ballet.

Konduktor yang tadi membangunkan aku terlihat berganti posisi. Ia sudah duduk di tempat duduk yang tersedia di peron stasiun, dan aku.. aku juga sudah berdiri di depannya seolah-olah sedang menghadapi sebuah audisi bakat yang sedang marak di layar televisi

“Nyanyian dan tarian kamu bagus. Saya suka. Kamu bisa balet juga?”

“Emm.. enggak sih, Sir.”

“Lho itu tadi..kok kamu bisa balet gitu?”

“Enggak tau tadi saya…” belum sempat aku menjelaskan tentang kejadian di luar nalar barusan, si kondektur sudah memotong. Ia berdiri, maju beberapa langkah dan membuat aku terpaksa mundur juga beberapa langkah. Badannya yang tinggi besar menjulang di hadapanku, ditambah kumis tebalnya yang berwarna kekuningan. Terlihat sekali tekstur kumis yang terlihat kasar. Aku langsung membayangkan serabut jagung rebus yang biasa aku temui di Puncak Bogor. Hmmm, harumnya… jadi ingat kalau aku belum makan apapun dari tadi pagi. Ngomong-ngomong soal pagi, aku melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiri kondektur tersebut. Sudah pukul delapan pagi pukul London, dan perutku keroncongan bukan main.

Kondektur tadi terus berbicara panjang lebar, tapi aku tidak bisa mencerna apa yang ia bicarakan sampai ku lihat, ia merogoh tas jinjing berbentuk kotak berwarna biru di sampingnya. Itu kan tas milikku, pikirku. Kenapa ada di dia yah?

“Kamu pasti lapar yah? Belum makan? Nih, buat kamu..” Ia memberikan sebungkus Mister Potato Waavy ke hadapanku. Aku jadi ingat, aku sempat memakan beberapa keping sebelum akhirnya aku tertidur di commuter line menuju Depok. Ragu-ragu aku mengambilnya. “Ambil aja… gak apa. Udara di sini dingin sekali, dan kamu gak pake jaket.”

Aku pun mengambil bungkus Mister Potato Waavy dari tangan besar si kondektur tadi. “Gak apa. Kamu gak percaya sama saya ya? Kamu takut saya racunin?” Aku mengangguk dan mulai membuka bungkus Mister Potato yang tadi ia berikan. Namun, baru saja aku hendak mengambil keripik Mister Potato, ia keburu memotongku lagi..

“Tapi tunggu… setiap satu keping Mister Potato yang kamu makan akan membawamu ke tempat berbeda. Ini disebut Telepotato”

“Telepotato?!”

“Ya. Telepotato. Sebuah kekuatan dimana kamu bisa beteleportasi dengan cara memakan keripik kentang Mister Potato.”

“Berteleportasi dengan cara memakan keripik Mister Potato?!”

Dengan muka datar, si bapak kondektur bertubuh besar tadi hanya mengangguk, tanpa berkata sepatah kata pun. Aku mencoba bertanya lagi tentang apa maksud Telepotato yang tadi ia sebutkan, bukannya menjelaskan ia malah menyuruhku untuk segera mencoba kekuatan dari keripik kentang Mister Potato yang tadi ia jelaskan.

“Kamu beruntung bisa berkesempatan melakukan ini, wahai gadis Asia yang manis” katanya. “Cobalah, kamu tinggal ucapkan tempat yang kamu inginkan selama kamu ada di Inggris…”

Pikiranku menerawang jauh. Inggris. Negeri yang jauh sekali dari negeri tempat aku dilahirkan, tapi diam-diam aku sudah menaruh mimpiku di sana. Lancang memang, tapi aku pasti akan menjejakkan kakiku ke sana suatu saat nanti.

Mengapa? Sebagai anak sastra Inggris yang sudah berhasil menyelesaikan skripsi yang keseluruhan isi dan analisisnya menggunakan bahasa Inggris penuh, aku rasa pergi dan menghirup udara di Inggris merupakan hadiah wajib buat diri sendiri sebagai penghargaan telah melakukan sesuatu yang baik buat masa depan

Apalah arti menyandang gelar Bachelor of English Language and Literature tanpa pernah menginjakkan kaki di sana? Belum mahbrur, begitu istilahnya. Itulah alasan utama kenapa aku harus pergi ke Inggris. Dan mengunjungi tempat-tempat keren yang hanya ada di Inggris merupakan alasan-alasan lain setelah alasan utama ini.

Senyum mengembang di bibirku. Terbayang empat tahun penuh suka juga peluh bersama teman dan kamus Oxford yang tidak enteng itu. Bermeditasi dengan grammar dan kamus membuat saya harus pergi ke Inggris bagaimanapun caranya. Dan hari ini, hari pertama aku ada di Inggris dengan kekuatan super power Telepotato Mister Potato, aku akan menggunakannya sebaik mungkin. Gigitan di keping keripik pertama akan menjadi ggitan bersejarah dalam hidup, maka itu.. gigitan pertama aku akan gunakan untuk mengunjungi, London Bridge!

Beberapa detik kemudian, diiringi gema lagu London Bridge is Falling Down, aku sudah berada di kapal persis di bawah London Bridge. Air mata ku jatuh kala aku menyadari aku sudah persis berada di bawah jembatan London. Sebagai anak sastra Inggris yang juga mempelajari kesusastraannya, berada di sini adalah sebuah impian yang harus dipenuhi dalam waktu secepat mungkin. Suara gemericik air menambah haru dan membuat jatuh air mata di pipiku. Beberapa kali aku harus mencubit pipiku sendiri untuk meyakinkan ini bukan mimpi. Pergi ke Inggris dan berada di London Bridge adalah satu dari tempat impian ku selama berada di Inggris yang jadi nyata. Selain itu, juga ada..

Beatles Museum. Sie leibt Dich yeah yeah yeah… Sie leibt Dich yeah yeah yeah… siapa yang gak akan ikutan nyanyi kalau dengeri lagu ini. One of my favorite song dan ini juga akan menjadi nyata.

Emirates Stadium. Memberi selamat atas kemenangan Arsenal atas Manchester United di ajang FA tahun ini harus menjadi top list. Yeah, I am gunners!!

Tower Bridge, Richmond Park, Green Park, Buckingham Palace, Victoria Tower Gardens, King’s Cross Station, Westminster Abbey, Trafalgar Square, dan berakhir di Big Ben!

Big Ben. Naik bus tingkat berwarna merah, turun di Big Ben, adalah puncak dari segala bukit-bukit mimpi yang aku biarkan melayang-layang di udara Inggris untuk sekian lama. Terbayang sudah ratusan foto yang akan aku abadikan untuk anak dan cucu kelak. Rangkaian kata juga sudah aku bikin ketika saat menunjukkan foto kebanggaanku “Nak, ini lho dulu ibu mu ini pernah pergi ke Inggris..” Sudah dapat kubayangkan senyum bangga dari bibir mereka. Bahkan salah satu dari calon anak ku sampai memegang pundakku dan membisikkan…

“Kak, kak! Bangun kak! Bangun woy! Tidur apa pingsan sih loh! Udah siang ini!”Tanpa sadar, aku telah menghabiskan satu bungkus penuh keripik kentang Mister Potato. 

#InggrisGratis

 

Tapi.

Ia tidak secinta itu, ujar isi kepala yang langsung dibanjiri kata tapi dari si suara hati. Tapi, dia bilang dia cinta. Tapi, entah mengapa aku percaya. Tapi, matanya menatapku tajam.

Tapi, tapi, tapi, aku cinta sama dia.

Ramai

Kesendirian. Mempunyai pacar tidak lantas membuatmu ramai dan bingar. Kamu hanya disuguhi kata-kata cinta setiap hari namun kamu tetap sendiri. 

Kesendirian. Ditemani ia yang setia menanyakan kabar dan memberi ucapan selamat pagi namun kamu tetap sendiri.

Aku tidak pernah merasa sesepi malam ini. Suara bising dari kipas angin begitu lekat padahal kamu ada di sini, menyamar menjadi ponsel agar orang tuaku tidak tau kita sedang tidur bersama. Setiap malam.

Tidak pernah sesepi ini.

Small Action: Big Story

Seharusnya aku membuka payungku saat itu, hujan lebat sudah turun sedari aku masih di dalam kereta menuju stasiun Cikini. Hujannya amat deras, sehingga kalaupun memakai payung sudah pasti akan basah juga. Terlebih, Jakarta. Tidak perlu disebut, hujan rintik saja sudah bisa buat genangan di mana-mana. Tapi karena harus mengejar jadwal nonton film di Metropole, Cikini, aku terpaksa harus membuka payungku. Warna merah muda bercampur kuning lembut.

Sudah kubentangkan payungku, siap melangkah maju..sampai kulihat tiga orang anak SD menawarkan payung untuk disewa di ujung stasiun. Terlihat dari pandangku. Mereka hanya punya satu payung, milik salah seorang diantaranya. Dua dari mereka masih mengenakan seragam sekolah dan satu orang sudah berganti pakai. Hari itu hari Sabtu tanggal 30 April 2013, seragam yang mereka pakai adalah seragam sekolah pramuka. 

Aku memanggil mereka, setelah menutup kembali payungku, kulihat dengan semangat mereka berlarian ke arahku. Rejeki, begitu mungkin yang ada dipikiran mereka. Pemilik payung itu bertubuh agak besar dari yang lain. Aku ambil payungnya, dan kurangkul ia di sampingku agar tidak kehujanan. Awalnya ia mau, namun kemudian ia memilih untuk menari di bawah hujan bersama dua orang temannya. Lalu kukeluarkan payungku dan kuberikan padanya agar ia tidak kehujanan, lalu dia bilang “Kalau gitu, nanti mbak gak usah bayar. Saya gak mau, mbak” aku lalu bilang aku tetap akan bayar, namun ia bilang “Mbak pake aja payung saya. Besok-besok saya bawa payung dua. Sama aja bohong dong kalau saya pakai payung, mbak. Mendingan mbak pake payung mbak sendiri aja gak bayar.” Salut. Sedari kecil, ia sudah memasang harga tinggi pada dirinya. Bukan dengan nominal jumlah rupiah yang harus dibayarkan setiap penyewa jasa payungnya. Tetapi, harga diri yang tidak mau dikasihani dan diberi selain atas usahanya sendiri.

Sempat aku menanyakan di mana sekolahnya, namanya, tempat tinggalnya. Dia menjawab singkat-singkat dan lebih banyak tersenyum. Satu jawaban yang membekas di benakku sampai saat ini adalah ketika ia berkata “Aku mau ujian, mbak, tanggal 6 mei besok” saat ku sarankan agar lain kali ia membawa dua payung agar tidak sakit karena Senin harus masuk sekolah. Satu untuk disewakan, satu untuk dirinya.

Banyak makna yang bisa diartikan dari perkataannya tersebut, salah satunya yang terlintas mungkin, ia harus melakukan ini karena sebentar lagi ia akan lulus dan harus meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Sesampainya di halaman parkir menuju gedung bioskop salah satu dari ketiga anak tadi bertanya film apa yang hendak saya tonton. Kebetulan saat itu saya hendak menonton Java Heat. Mereka bertanya film tentang apa, dan si empunya payung bertanya.. “Mbak, mbak udah nonton (menyebutkan tokoh yang saya tebak adalah tokoh hero Indonesia pada jaman dahulu yang namanya kurang familiar di telinga)?” aku hanya bilang belum dan menggelengkan kepala.

Ada tamparan sedikit yang mengena hatiku, tidak ada aksi sosial yang hebat memang dari apa yang aku ceritakan barusan, selain membayar dengan selembar uang dua puluh ribu rupiah. Aku harap itu cukup dan sampai berjumpa kembali hey kalian sahabat hujan! Nanti kita nonton film anak bersama, ya! Janji. :)

Selamat Hari Pendidikan, adik-adik sahabat karib hujan.

Yang harus dijaga ketika tidak ada apapun lagi selain jarak diantara kamu dan dia adalah rindu yang terus menerus.

GK Dilaga

Seperti Katamu.

Sedang tidak dalam mood untuk berbincang denganku, katamu. Sejak itu aku tahu seharusnya aku berhenti menunggumu. Karena jika kau benar cinta, seperti katamu, suaraku adalah obat yang menyembuhkan. Bahkan candu yang tidak bisa tidak kau dengar barang satu waktu.

Terlebih kita ini, jauh.

:(

Beberapa masalah patutnya hanya ditertawakan saja, sisanya untuk ditertawakan nanti. Life is good.

GK Dilaga

kubangan perasaan: Center of knowing

babikbinal:

Ada baiknya kita menyalahkan diri sendiri daripada menyalahkan orang lain karna ketidakberhasilan sebuah hubungan. Sebab masalah terbesar datang dari dalam diri sendiri, sementara lingkungan merupakan faktor pelengkap dari sebuah kejadian. Refleksi dari sebuah pikiran yang tanpa sengaja kita…

Jika pernah membicarakan orang lain di belakang, jangan marah jika dibicarakan orang lain di belakang.

GK Dilaga

Ketika Ku Berjalan, Aku Pastikan Aku Sedang Melaju Lurus. Mendekatimu Yang Mendekatiku.

GK. Dilaga