Tapi.

Ia tidak secinta itu, ujar isi kepala yang langsung dibanjiri kata tapi dari si suara hati. Tapi, dia bilang dia cinta. Tapi, entah mengapa aku percaya. Tapi, matanya menatapku tajam.

Tapi, tapi, tapi, aku cinta sama dia.

Ramai

Kesendirian. Mempunyai pacar tidak lantas membuatmu ramai dan bingar. Kamu hanya disuguhi kata-kata cinta setiap hari namun kamu tetap sendiri. 

Kesendirian. Ditemani ia yang setia menanyakan kabar dan memberi ucapan selamat pagi namun kamu tetap sendiri.

Aku tidak pernah merasa sesepi malam ini. Suara bising dari kipas angin begitu lekat padahal kamu ada di sini, menyamar menjadi ponsel agar orang tuaku tidak tau kita sedang tidur bersama. Setiap malam.

Tidak pernah sesepi ini.

Small Action: Big Story

Seharusnya aku membuka payungku saat itu, hujan lebat sudah turun sedari aku masih di dalam kereta menuju stasiun Cikini. Hujannya amat deras, sehingga kalaupun memakai payung sudah pasti akan basah juga. Terlebih, Jakarta. Tidak perlu disebut, hujan rintik saja sudah bisa buat genangan di mana-mana. Tapi karena harus mengejar jadwal nonton film di Metropole, Cikini, aku terpaksa harus membuka payungku. Warna merah muda bercampur kuning lembut.

Sudah kubentangkan payungku, siap melangkah maju..sampai kulihat tiga orang anak SD menawarkan payung untuk disewa di ujung stasiun. Terlihat dari pandangku. Mereka hanya punya satu payung, milik salah seorang diantaranya. Dua dari mereka masih mengenakan seragam sekolah dan satu orang sudah berganti pakai. Hari itu hari Sabtu tanggal 30 April 2013, seragam yang mereka pakai adalah seragam sekolah pramuka. 

Aku memanggil mereka, setelah menutup kembali payungku, kulihat dengan semangat mereka berlarian ke arahku. Rejeki, begitu mungkin yang ada dipikiran mereka. Pemilik payung itu bertubuh agak besar dari yang lain. Aku ambil payungnya, dan kurangkul ia di sampingku agar tidak kehujanan. Awalnya ia mau, namun kemudian ia memilih untuk menari di bawah hujan bersama dua orang temannya. Lalu kukeluarkan payungku dan kuberikan padanya agar ia tidak kehujanan, lalu dia bilang “Kalau gitu, nanti mbak gak usah bayar. Saya gak mau, mbak” aku lalu bilang aku tetap akan bayar, namun ia bilang “Mbak pake aja payung saya. Besok-besok saya bawa payung dua. Sama aja bohong dong kalau saya pakai payung, mbak. Mendingan mbak pake payung mbak sendiri aja gak bayar.” Salut. Sedari kecil, ia sudah memasang harga tinggi pada dirinya. Bukan dengan nominal jumlah rupiah yang harus dibayarkan setiap penyewa jasa payungnya. Tetapi, harga diri yang tidak mau dikasihani dan diberi selain atas usahanya sendiri.

Sempat aku menanyakan di mana sekolahnya, namanya, tempat tinggalnya. Dia menjawab singkat-singkat dan lebih banyak tersenyum. Satu jawaban yang membekas di benakku sampai saat ini adalah ketika ia berkata “Aku mau ujian, mbak, tanggal 6 mei besok” saat ku sarankan agar lain kali ia membawa dua payung agar tidak sakit karena Senin harus masuk sekolah. Satu untuk disewakan, satu untuk dirinya.

Banyak makna yang bisa diartikan dari perkataannya tersebut, salah satunya yang terlintas mungkin, ia harus melakukan ini karena sebentar lagi ia akan lulus dan harus meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. 

Sesampainya di halaman parkir menuju gedung bioskop salah satu dari ketiga anak tadi bertanya film apa yang hendak saya tonton. Kebetulan saat itu saya hendak menonton Java Heat. Mereka bertanya film tentang apa, dan si empunya payung bertanya.. “Mbak, mbak udah nonton (menyebutkan tokoh yang saya tebak adalah tokoh hero Indonesia pada jaman dahulu yang namanya kurang familiar di telinga)?” aku hanya bilang belum dan menggelengkan kepala.

Ada tamparan sedikit yang mengena hatiku, tidak ada aksi sosial yang hebat memang dari apa yang aku ceritakan barusan, selain membayar dengan selembar uang dua puluh ribu rupiah. Aku harap itu cukup dan sampai berjumpa kembali hey kalian sahabat hujan! Nanti kita nonton film anak bersama, ya! Janji. :)

Selamat Hari Pendidikan, adik-adik sahabat karib hujan.

Yang harus dijaga ketika tidak ada apapun lagi selain jarak diantara kamu dan dia adalah rindu yang terus menerus.

GK Dilaga

Seperti Katamu.

Sedang tidak dalam mood untuk berbincang denganku, katamu. Sejak itu aku tahu seharusnya aku berhenti menunggumu. Karena jika kau benar cinta, seperti katamu, suaraku adalah obat yang menyembuhkan. Bahkan candu yang tidak bisa tidak kau dengar barang satu waktu.

Terlebih kita ini, jauh.

:(

Beberapa masalah patutnya hanya ditertawakan saja, sisanya untuk ditertawakan nanti. Life is good.

GK Dilaga

kubangan perasaan: Center of knowing

babikbinal:

Ada baiknya kita menyalahkan diri sendiri daripada menyalahkan orang lain karna ketidakberhasilan sebuah hubungan. Sebab masalah terbesar datang dari dalam diri sendiri, sementara lingkungan merupakan faktor pelengkap dari sebuah kejadian. Refleksi dari sebuah pikiran yang tanpa sengaja kita…

Jika pernah membicarakan orang lain di belakang, jangan marah jika dibicarakan orang lain di belakang.

GK Dilaga

Ketika Ku Berjalan, Aku Pastikan Aku Sedang Melaju Lurus. Mendekatimu Yang Mendekatiku.

GK. Dilaga

Usah Usai.

Ini puisi sedih. Ditulis sangat hati-hati oleh jemari yang basah setelah menyeka air di mata. Ini puisi sedih. Dirangkai sedemikian rupa untuk menghibur hati yang ingin kembali pulih. Puisi yang ditulis dengan cepat-cepat agar tidak ketinggalan hujan yang sebentar lagi akan berhenti. Berhenti tepat di depan rumahku. Rumah yang tidak sempat engkau singgahi. 

Ini puisi sedih yang buru-buru aku ingin selesaikan sebelum hujan reda dan air mataku menderas. Sangat deras karena begitu gemasnya aku ingin memelukmu. Ingin mencumbumu. Menyentuhmu dengan tanganku. Menyudahi semua rinduku.

Rindu.

Ini puisi tentang rindu yang tak sampai hingga peranku sebagai kekasihmu telah usai.